Total Tayangan Halaman

Minggu, 22 Mei 2011

Bangga Jadi David


Anak-anak para pemulung sedang pembagian raport


Selamat pagi, Indonesia Jaya.
Tiba-tiba saja aku seperti pahlawan “kesiangan” yang berani memposisikan diri sebagai David yang berani bertarung melawan Goliath, para raksasa koruptor yang telah menggurita.
Korupsi adalah kebiasaan buruk yang sudah membudaya, dan untuk memberantasnya tentu saja bukan perjuangan yang mudah, sangat berat dan hampir mustahil. Dalam sekejap saja pasti akan terlihat hasilnya yaitu : sia-sia.
Dalam kesia-siaan itu, apakah aku akan menjadi David selamanya ?.
“Sudah lah tidak usah munafik, kawan !.” Begitu ejek temanku. “ Belum saja kesempatan korupsi itu datang kepadamu, kalau sudah, pasti akan sama saja, kamu dengan mereka.”
Tanpa memberikan kesempatan padaku untuk membela diri, temanku terus saja nyerocos, “Lihat Menteri Kehutanan itu !, bukan kah dia mentor kita waktu di HMI (baca : Himpunan Mahasiswa Islam) dulu ?.” Aku diam tak menjawab. Sebuah pertanyaan yang tak perlu ku jawab karena aku dan temanku pun sama-sama tahu kalau Menteri Kehutanan itu adalah mentor kita waktu pendidikan dasar anggota HMI Jakarta.
“Begitu tawadhu nya, dia dulu … .” Temanku melanjutkan ceritanya. “Puasa senin kamis nya rajin, tahajud nya juga gak ketinggalan, badannya saja sampai kurus kering begitu … pemuda idealis yang sangat vokal dan berani, sehingga oleh “intel” sering dijadikan TO (baca: Target Operasi)
“Tapi apa yang terjadi kemudian ?, Kebutuhan hidup seseorang akan semakin meningkat seiring dengan berjalannya waktu, apalagi setelah dia berrumah tangga dan mempunyai anak, apakah cukup hanya mengandalkan idealisme saja ?.” Tanya temanku lagi.
“Pekerjaan menjadi dosen di sebuah universitas biasa-biasa saja, tidak bisa dijadikan tumpuan karir untuk masa depannya, dengan pengalaman organisasi nya sangat mudah bagi dia untuk bisa berkiprah di partai, dari partai lah lalu kemudian dia terpilih menjadi seorang wakil rakyat dan dalam periode berikutnya karena partai nya berkoalisi dan sangat dekat dengan kubu presiden, maka dia pun terpilih menjadi seorang menteri.”
“Lantas, apa yang salah ?.” Tanyaku.
“Perutnya saja sekarang sudah membuncit, itu tanda nya dia sudah makmur, kawan !”
“Tidak ada korelasi nya antara perut buncit dengan kemakmuran seseorang apalagi dengan korupsi.” Protesku pada temanku.
“Manusia adalah makhluk hidup yang paling pandai ber-adaptasi, termasuk dia, aku dan kamu juga !, makanya kita bisa survive sampai saat ini.” Jelasnya lebih lanjut. “Siapa yang tidak pandai ber-adaptasi, maka dia tidak akan bertahan hidup dan akan tergilas jaman, kawan !.”
“Kalau itu aku juga setuju.” Jawabku singkat.
“Maka nya jadi orang gak usah terlalu idealis lah, flexible dan kompromistis, dan jangan lupa, masalah apapun bisa : “cincai lah !”, di sini apa sih yang gak bisa dibeli dengan uang ?.”
“Itu nama nya oportunis !.” Protesku lagi.
“Ini realita, kawan !.” Jawabnya menangkis protesku.
“Realita ?, lantas sudah kau taruh dimana hati nuranimu, teman ?.” Jawabku kalem.
“Ah, Terserah kau saja lah !, yang penting keluargaku aman dan gak kelaparan, hehehe ….siapa sih yang gak mau jadi pejabat ?, semua orang pasti mau, termasuk aku juga !, hehehe …” Sambil tertawa nyengir temanku pun pergi.
Enam bulan kemudian setelah temanku pergi.
Dibeberapa harian surat kabar memuat berita tentang skandal si Menteri Kehutanan mulai dari ditemukan adanya aliran dana ke yayasan yang di pimpin oleh Menteri Kehutanan itu pada kasus alih fungsi hutan lindung, penerimaan traveller’s cheque terkait dengan Pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia.
Sebagai manusia yang pandai ber-adaptasi, Menteri Kehutanan itu pun bersikeras kalau uang suap yang diterimanya dianggap sebagai rejeki dari seorang kawan dan tuduhan korupsi pada dirinya sama dengan tuduhan PKI terhadap seseorang pada masa Orde Baru. Dia selalu bersikeras menentang kalau dirinya disangka koruptor tapi bau aroma korupsi dan uang suap, begitu kental. tercium.
Aku jadi teringat ketika dalam kampanyenya di daerah-daerah, dia selalu vokal menyerukan pemberantasan korupsi. Ternyata, setelah jadi pejabat kini di pengadilan Tipikor, dia disebut-sebut sebagai seseorang yang tersangkut skandal suap dan korupsi.
Sebuah ironisme yang biasa terjadi di negara ini. Ya, mungkin saja kata temanku benar. Aku menjadi David sebenarnya adalah karena aku belum memiliki kesempatan untuk menjadi Goliath.
Jam di tanganku menunjukkan pukul 07:30, secepatnya tulisan ini aku posting di Kompasiana. Sebentar lagi murid-murid spesialku datang. Selain sebagai guru di sebuah sekolah swasta, aku dan beberapa teman yang memiliki kepedulian yang sama, mendirikan sebuah kelas darurat untuk mendidik anak-anak para pemulung dan anak-anak terlantar di sekitar Tempat Pembuangan sampah Akhir (TPA) Bantar Gebang.
Bau busuk yang menyengat dari tumpukan sampah yang menggunung buat hidungku sudah menjadi hal biasa. Jangankan berharap untuk mendapatkan uang lebih dari kegiatan mengajar kami, sering kami pun terpaksa merogoh dari kocek kami sendiri untuk membiayai kegiatan ini.
Dikeheningan malam, kadang aku merenung. Apa yang sebenarnya kucari dari kegiatan ini ?. Istriku yang tertidur lelap di sampingku. Dan anak bayiku yang baru berumur tiga bulan dengan senyum, ia tidur di samping ibunya. Apakah kelak aku sanggup membahagiakan mereka ?. Cepat-cepat kutepis keraguan itu. Sebenarnya aku bangga dengan diriku sendiri, bangga menjadi David yang telah berani melawan Goliath yang gagah perkasa dan sangat berkuasa itu. Walaupun hanya dengan menjadi guru bagi anak-anak para pemulung dan anak-anak terlantar.
Gunung Jaha, Bogor, 26 Agustus 2010
Wans Sabang

seperti satu meriam kau meledak, seribu bedil adakah berarti?,

kalau laras-laras sudah berbalik, apalagi kau tunggu saudara?,

Ayo, nyalakan api hatimu!, seribu letupan pecah suara,

sambut dengan satu kata : MERDEKA !

(Nyanyian Tanah Merdeka, Leo Kristi)

Bosan Aku Caci Maki Kamu !



Bosan Aku Caci Maki Kamu !

Aku dilahirkan dari kedua orang tua yang bukan tukang mencaci maki. Jadi Tak sepantasnya kalau aku jadi orang yang suka mencaci maki. Like Father like Son, buah jatuh selalu tidak jauh dari pohonnya.
Sewaktu aku dilahirkan di sebuah rumah sakit pemerintah, di ‘oper’ kesana, di ‘oper’ kesini, di ‘cuek’in, di judesin suster dan para perawatnya, karena orang tuaku ke rumah sakit dengan membawa SKTM (Surat Keterangan Tanda Tidak Mampu) atau lebih akrab disebut : Surat Miskin, masih saja orang tua ku bisa tersenyum dan tidak mau  mencaci maki.
Aku disekolahkan di  Sekolah Dasar yang lebih mirip “kandang sapi” dengan lapangan sekolahnya sama dengan “kubangan kerbau” setelah di guyur hujan. Orang Tuaku masih saja diam dan tak mau mencaci maki.
Ketika PLN memutuskan aliran listrik di rumahku karena orang tua ku telat membayarnya, setelah dua bulan yang lalu PAM telah memutuskan dan mencabut meteran air nya, masih saja orang tua ku, tertunduk-tunduk hormat dan ewuh pakewuh kepada para petugas itu dan tak keluar sepatah katapun caci makian.
Aku benci semua ini !.
Ketika 17 tahun umurku, sebagai stempel kedewasaan, aku pun mengurus KTP.  Sambil menyerahkan KTP ku yang telah selesai, sambil berbisik, petugas kelurahan meminta uang tips sebesar 50 ribu padaku. Dan aku pun berteriak : GILA, LHO !, KATANYA NGURUS KTP  GRATIS ?.
Sambil bersikeras untuk tidak memberikan uang sepeserpun, aku pun pergi sambil mencaci maki, “HUH DASAR !, PETUGAS SIAL !.”
Tanpa kusadari, dari hari kehari, aku pun selalu mencaci maki dan senang mencaci maki.
Ketika buruknya pelayanan transportasi umum yang ku temui, dari bis kota dan kereta ekonomi. Aku caci maki kamu !.
Ketika banjir tahunan yang melanda kota Jakarta, hingga merendam rumahku sampai sedada. Aku caci maki kamu !.
Ketika TVRI (stasiun TV satu-satunya yang ada pada saat itu) sedang menyiarkan KELOMPENCAPIR. Aku Caci Maki Kamu !.
Ketika Beliau sedang membacakan Laporan Pertanggung Jawaban dihadapan wakil rakyat, karena saking bosannya terhadap Beliau yang kelamaan menjabat jadi Presiden. Aku Caci Maki Kamu !.
Ketika sebuah paduan suara para wakil rakyat menyanyikan koor : Setujuuuuuuu !, untuk mengangkat beliau kembali menjabat sebagai Presiden untuk 5 tahun lagi. Aku benar-benar kesal terus caci maki kamu !.
Ketika terjadi krisis moneter, rupiah anjlok terpuruk ke jurang yang paling dalam. Aku Caci Maki Kamu!.
Ketika mahasiswa memutuskan untuk turun ke jalan, memberikan ULTIMATUM agar beliau diturunkan dari jabatannya sebagai presiden. Aku semakin bersemangat caci maki kamu.
Di panggung Orasi, ketika aku lebih memilih : REVOLUSI SAMPAI MATI ! dari pada REFORMASI 1/2 HATI.  Aku Caci Maki Kamu !.
Tanpa terasa kini aku telah menjadi orang tua, ya orang tua yang suka mencaci maki.
Ketika aku menatap keluguan wajah anak-anakku, Like father like Son, buah jatuh selalu tidak jauh dari pohonnya. Oh, My God !, apakah anak-anakku nanti akan seperti diriku menjadi orang yang suka mencaci maki.  God, cukup aku saja si Tukang Caci Maki itu !.
Jujur, sebenarnya aku pun bosan caci maki kamu.
Karena kamu adalah makhluk yang paling tuli sedunia, patung yang terbuat dari batu cadas, Begitu kasarnya aku caci maki kamu. Tetap saja kamu diam tak bergeming. Karena kamu adalah makhluk paling sombong dan tolol sedunia.
STOP !
Tadi kan aku sudah bilang, sebenarnya aku bosan caci maki kamu !.
Bukan karena aku BENCI kamu tapi karena aku SAYANG kamu, Indonesia  …
Jadi izinkan aku terus caci maki kamu …
Bogor, 23 Agustus 2010
Wans_Sabang
catatan yang terserak dari seoarang aktivis,
oleh-oleh Reformasi 1/2 Hati ….
sebuah bentuk sayang yang “aneh”

Si Kancil Mencuri Ketimun, Kok Pak Taninya Gak Marah?



Si kancil anak nakal, suka mencuri ketimun,
Ayo lekas di tangkap !, Jangan di beri ampun …

Kata-kata di atas adalah sebuah lirik lagu anak-anak yang telah akrab di telinga kita.
Dari jaman bapak saya masih anak kecil, sampai sekarang saya sudah menjadi bapak dan punya anak kecil, lagu tersebut tetap saja masih sering diperdengarkan.
Pada lagu tersebut ada nasehat dan pengajaran kepada kita yang telah ditanamkan sejak kita masih TK. Nilai-nilai moral yang terdapat pada lirik lagu tersebut sangat sederhana dan mudah di cerna. Anak TK pun  bisa cepat memahaminya.
Si Kancil, merupakan simbol binatang yang cerdik. Cerdik bukan dalam arti pandai dan pintar tetapi cerdik dalam arti licik dan curang. Karena kelicikan dan kecurangannya, dalam lirik lagu tersebut si Kancil di ‘konotasi’ kan sebagai anak nakal yang suka mencuri”.
Pesan moral pertama pada lagu tersebut adalah ; siapa pun yang mencuri disebut atau di kelompokkan sebagai anak nakal.
Pertanyaannya adalah : apakah pesan moral tersebut masih tetap sama dan tidak berubah dari jaman dahulu sampai sekarang ?. Atau, apakah nilai-nilai pesan moralnya telah terjadi degradasi, sehingga timbul pendapat ;
Siapa pun yang mencuri belum tentu disebut atau di kelompokkan sebagai anak nakal, bisa saja anak baik atau orang-orang yang terkesan baik dan terhormat pun ternyata suka atau hobinya mencuri.
Pesan moral kedua pada lagu tersebut adalah ; siapa pun yang mencuri, Ayo, lekas di tangkap !. Ditangkap sama artinya dengan di hukum atau secepatnya dilakukan proses hukum terhadap siapa pun yang mencuri tanpa rekayasa dan pandang bulu, menganut asas keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pesan moral ketiga pada lagu tersebut adalah ; pencuri yang sudah ditangkap, ya jangan diberi ampun. Jangan diberi ampun, sama artinya dengan pencuri yang telah ditangkap, harus diberikan sangsi hukum yang setimpal sehingga akan menimbulkan efek jera bagi orang lain yang berniat untuk mencuri. Tindakan ‘preventif’ atau pencegahan selalu akan lebih baik dari pada tindakan ‘kuratif’ atau “mengobati”.
Al-kisah dalam sebuah dongeng, Pak Tani yang sudah geram karena kebunnya selalu dicuri oleh si Kancil, Ia berusaha keras untuk menangkap si Kancil yang terkenal cerdik itu.
Dengan seluruh keseriusan dan kesungguhannya, serta berbagai cara akhirnya Pak Tani pun berhasil menjebak, menjerat lalu menangkap si Kancil sehingga akhirnya si Kancil tak berdaya.
Kalau saya analogikan : Indonesia sebagai sebuah kebun yang maha luas, Pemilik kebunnya adalah Rakyat Indonesia dan Pak Tani nya adalah orang-orang yang di amanat kan oleh seluruh rakyat Indonesia untuk menjaga, melindungi dan merawat kebun tersebut. dari gangguan si Kancil atau anak-anak nakal yang suka mencuri.
Kebun yang bernama Indonesia bukan hanya ditanami ketimun, tomat dan cabe saja. Di dalam kebun Indonesia juga terdapat banyak kekayaan alam lainnya, baik yang hayati maupun non hayati seperti ; hutan, kelapa sawit, karet, minyak bumi, emas, batu bara, dan lain-lainnya.
Indonesia sebagai sebuah kebun yang bukan hanya menggiurkan namun juga mampu menerbitkan air liur bagi si Kancil.
Dan ironisya, bukan hanya si Kancil yang terbit air liur nya melihat sumber kekayaan alam Indonesia tapi Pak Tani yang lemah imannya dari kalangan Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif , dari tingkat kelurahan sampai struktur pemerintahan tertinggi, dari Sabang sampai Merauke, yang seharusnya menjaga, melindungi dan merawat kebun Indonesia, eh … malah ikut-ikutan jadi si Kancil.
Ironis memang, orang-orang yang terkesan baik dan terhormat ternyata adalah si Kancil yang suka mencuri di kebun Indonesia, lolos begitu saja dan tidak mudah di tangkap. Kalau pun sempat ditangkap, sulit sekali untuk dijerat oleh hukum. Pak Tani yang seharusnya serius dan sungguh-sungguh menangkap si Kancil ternyata sama saja ; setali tiga uang, sama aja bo’ong, musang berbulu domba, pagar makan tanaman, si melekete !, wes ewes ewes bablas kancil’ne, preketeeeew, preeeeeeeeettt !.
Sungguh, kita telah salah memberi amanat itu. Ah, apa gunanya penyesalan?.
Pantas saja, ketika si Kancil mencuri Ketimun, Kok Pak Tani nya gak marah ?.

Gunung Jaha Lestari, 23 Agustus 2010
Wans_Sabang


Si kancil anak nakal, suka mencuri ketimun,
Ayo lekas di tangkap !, Jangan di beri ampun …
Nyanyian lagu anak-anak tersebut semakin lama semakin sayup terdengar
dari speaker mainan “Odong-Odong” yang ditumpangi putriku terkecil.
Bapak Tukang Odong-Odong itu pun membuyarkan lamunanku,
“Pak … Pak … sudah habis, Pak, Ongkosnya, Pak !.
Aku pun memberikan uang seribu, lalu Bapak Tukang Odong-Odong itu pun pergi.
Sambil menggendong putriku terkecil, tanpa terasa air mata menetes menghangati pipi,
“Duh, Indonesia … apa yang bisa kuwariskan untukmu nanti, Nak ?,
selain cuma kemiskinan dan kebodohan saja ….”

Mantan Konseptor Pidato Presiden Meninggal Dunia


Pada hari hari
sepi
tinggal titik titik
detik detik
akhir hidupku
dan
aku harus menulis lagi …
tentang kunang-kunang
hingga cinta yang usang
tentang sebuah cita-cita
sampai renta tak berdaya
tentang rumput-rumput
sampai maut akan menjemput
kupandangi lagi
coretan-coretan batinku
duh !, aku merasa asing …
konsep pidato presiden menyambut hari pahlawan
konsep pidato presiden menyambut hari kebangkitan nasional
konsep pidato presiden di hari kemerdekaan
konsep ini konsep itu
konsep bla bla bla …
apa artinya piagam dan lencana?
apa artinya gemuruh tepuk tangan?
kalau semua tulisanku tak berharga
dan sama dengan sampah !
intelektualitasku dikebiri
harga diriku pun t’lah dibeli…
apa artinya harta berlimpah ?
jika ragaku pun tak berjiwa
sia-sia detak jantungku menangkal ajal
semakin aku lemah lunglai juga …
aku akan menulis
dengan hati
dengan jiwaku yang menjerit-jerit
dengan geloraku yang panas menyala
sebelum mati, aku harus menulis …
walau yang ku tulis cuma bagaimana cara berternak cacing !
mungkin itu lebih mulia
dari pada aku terus menerus menipu bangsaku
membohongi dan membodohi rakyatku sendiri
aku berharap kelak di alam sana
berjumpa dengan Bung Pram, Chairil Anwar dan W.S. Rendra
berdebat tentang cita-cita Indonesia Raya
mencari solusi menuju Indonesia Jaya …
duh, begitu indahnya suasana itu
semangatku pun membara
ragaku pun kini dipenuhi jiwa-jiwa merdeka
hei, Tuhan !, akhirnya Kau pun datang juga
aku bisa apa selain pasrah …
tapi jiwaku
tak akan pernah menyerah !
PS :
Mantan konseptor pidato presiden meninggal dunia,
begitulah sebuah artikel berita yang sambil lalu kubaca di KOMPAS pagi ini.
Lalu kubaca head line, berita olah raga yang ku suka, dan segera saja koran tersebut kulipat kumasukkan kedalam tas kerja.
Secepatnya aku berangkat kerja untuk menghindari kemacetan di jalan.


Gunung Jaha Lestari, 21 Agustus 2010

Wans_Sabang

Ingin Menjadi Warga Negara Indonesia yang Baik?



Tanggal 18 agustus 2010, mulai hari ini aku bertekad untuk menjadi warga negara Indonesia yang baik.
Selama ini aku selalu apriori kalau sudah bicara tentang Indonesia, yang terlihat selalu  yang buruk-buruk nya saja, serasa rumput tetangga lebih hijau dari rumput di halaman rumah kita sendiri.
Apa yang salah ?. Pola pikir ku tentang Indonesia atau Indonesia nya sendiri yang memang pantas untuk di salahkan ?.
Kalau aku harus merubah Indonesia, hal ini adalah suatu pekerjaan yang Maha Besar dan lebih terlihat mustahil dengan segala keterbatasan yang ku miliki.
Hal yang sangat masuk akal dan bisa ku lakukan (asal saja aku masih punya kemauan) adalah merubah pola pikir ku tentang Indonesia. Merubah pola pikirku yang negatif menjadi pola pikirku yang positif tentang Indonesia.
Tulisan ini adalah sebagai bukti awal hasil perubahan pola pikirku yang positif tentang Indonesia.
Ya, mulai detik ini aku ingin menjadi warga negara Indonesia yang baik.
Pertanyaan selanjutnya adalah dengan cara apa dan bagaimana agar aku bisa menjadi warga negara Indonesia yang baik ?.
Indonesia, apa yang bisa kuberikan untukmu ?.
Karena aku bukanlah orang kaya dan tidak mampu untuk memberi sepeser rupiah pun pada Indonesia  …. Hehehehe, CUKUP dengan TIDAK MENCURI sepeser rupiah pun dari Indonesia ini.
Sulitkah ?. Mudah-mudahan sebagai rakyat biasa aku akan lebih mudah melaksanakan tekadku. Karena aku bukanlah seorang pejabat yang punya akses untuk mencuri uang negara.
Wallahu’alam, cuma Allah yang Maha Tahu kalau saja nanti aku jadi seorang pejabat yang mempunyai akses untuk mencuri uang negara. Apakah aku masih bisa tetap memegang teguh tekadku ?.
Sulitkah ?. Ingin menjadi warga negara Indonesia yang baik ternyata lebih sulit ketika nanti aku jadi seorang pejabat dibandingkan sekarang saat aku masih jadi rakyat biasa.
Pantas Kenapa aku tidak jadi pejabat ?. Don’t be naif ?. Aku tidak naif !. Pola pikirku yang positif tentang Indonesia ternyata mampu mendamaikan hati dan pikiranku. Kenapa aku hanya jadi rakyat biasa ?, ternyata Tuhan masih sayang sama aku dan Dia tidak ingin aku jadi PENCURI. Terima kasih Tuhan …

Indonesia Sudah Merdeka ?



Setiap tanggal 17 agustus, saya selalu teringat akan pembacaan puisi dari budayawan Bung Ikranegara.
Waktu ramai-ramai nya era reformasi, para tokoh nasional, perwakilan-perwakilan dari elemen mahasiswa dan masyarakat banyak yang berorasi dengan bahasa yang meletup-letup siap untuk meledakkan sebuah kebuntuan sejarah yang disebut orde baru.
Bung Ikranegara naik ke atas panggung orasi. Bung Ikra diam sesaat, suasana yang kami tangkap saat itu tiba-tiba saja hening. Diam nya Bung Ikra saja telah begitu membuat kami penasaran, orasi macam apakah yang akan beliau bawakan, karena telah berlalu  tokoh-tokoh nasional yang berorasi, cukup memacu adrenalin kami untuk berontak melawan dan meruntuhkan orde baru.
Semangat untuk berontak melawan dan meruntuhkan rezim orde baru kami selalu di charge dengan demo-demo dan mendengarkan orasi para tokoh nasional anti orde baru pada saat itu.
Tapi Bung Ikra ternyata tidak membawakan orasi yang berapi-api sifatnya. Beliau ciptakan keheningan karena rupanya beliau ingin membacakan sebuah puisi. Kami semua yang menonton pada saat itu penasaran menunggu seorang budayawan membacakan puisi. Pasti akan ada sesuatu hal yang baru atau sesuatu hal yang unik yang dapat memberikan kami pencerahan.
Kini yang terdengar hanya suara Bung Ikra saja penuh semangat meneriakkan kata-kata :
Merdeka !
Merdeka !
Merdeka !
lalu kemudian tiba-tiba dengan wajah tertunduk tanpa semangat atau yang kami lihat adalah semangat yang berbeda dengan pada saat beliau meneriakkan yel-yel merdeka tadi.  Dan dengan suara lirih, nyaris tak terdengar, beliau berkata :
Indonesia belum merdeka …
Sebelum kami dapat mencerna kata-kata itu, Bung Ikra pun turun dari panggung orasi menyepi dari keramaian panggung.
Kami semua yang hadir pada saat itu cukup terkesima dan kaget dengan puisi singkat yang baru saja dibacakan oleh Bung Ikra sehingga kami semua terlambat memberikan tepuk tangan kepada Bung Ikra. (saya rasa Bung Ikra juga tidak membutuhkan tepuk tangan kami semua).
Sebuah puisi singkat, namun mampu menghujam ulu hati kami semua yang hadir pada saat itu. Indonesia belum merdeka …. Sebuah kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Bung Ikra mampu membuat kami harus me restart ulang pikiran kami pada waktu itu. Apa benar Indonesia belum merdeka ?, Kalau salah, timbul lagi pertanyaan dalam hati kami, Apa memang Indonesia sudah merdeka ?.
Indonesia belum merdeka ? atau Indonesia sudah merdeka ?. Sebuah pertanyaan yang bukan hanya perlu data-data penelitian dari berbagai macam sudut pandang keilmuan untuk menjawabnya tapi juga diperlukan sebuah kejujuran dari hati kita yang paling dalam.
Nilai sebuah kejujuran ini lah yang saat ini sulit dan langka di temukan karena adanya berbagai macam kepentingan pribadi, golongan dan partai. Sulit nya menjawab pertanyaan ini secara jujur dan obyektif sesulit kita mencari orang yang jujur di negara ini.


Cibitung, Bekasi, 17 Agustus 2010
wans_sabang

“Pengibaran bendera setengah tiang atas mati nya hati nurani ….”