Total Tayangan Halaman

Selasa, 10 Mei 2011




The Time Tunnel

Seandainya mesin lorong waktu, The Time Tunnel bisa mengantarkanku kembali ke masa dua puluh tiga tahun yang lalu.di bulan juli. Aku akan memilih untuk terdampar pas di hari ulang tahun seorang gadis yang ku suka waktu di SMA dulu, Maribeth nama nya.

Sebelum masuk ke The Time Tunnel, aku harus mempersiapkan segalanya untuk memberikan ‘surprise’ pada Maribeth. Aku akan beli bunga mawar, yang merah atau yang putih?, aku pilih yang putih nampak lebih anggun pada saat ku berikan nanti.

Kalau bunga mawar putih susah nyarinya, pikirku yang warna merah juga gak apa-apa. Kalau bunga mawar yang asli juga gak ada, bunga mawar yang plastik OK juga sih, tapi harus ku semprot dulu pakai parfum Gatsby kesukaanku, kalau parfum kesukaanku itu sulit ditemukan karena aku sering sembarangan menyimpannya, di semprot pakai pengharum ruangan juga sudah cukup, yang pentingkan harumnya.

Dengan mengenakan Tuxedo, aku berharap aku akan lebih Percaya Diri ketika bertemu dengan Maribeth.

The Time Tunnel berhasil mengantarkan ku tepat di depan pintu rumahnya. Setelah pintu ku ketuk, ku berharap yang muncul bukan ‘bokap’ nya yang kaku atau ‘nyokap’ bule nya yang jutek banget. Harapanku terkabul, Maribeth muncul di hadapanku dengan mengenakan gaun pesta warna pink yang menambah manis wajahnya yang bule ‘innocent’ itu. Sungguh serasi dengan setelan pakaian Tuxedoku.

Setelah melemparkan senyum ku yang paling ‘imut-imut’, Maribeth pun membalas pula dengan senyum nya yang memabukkan sambil mempersilahkan aku masuk. Baru sekali menerima senyumnya saja sudah membuatku sempoyongan, bagaimana kalau ia tersenyum padaku seratus kali, bisa masuk rumah sakit aku di buatnya.

Seorang pembantu, membawakan secangkir minuman panas dan sepiring ‘roti sumbu’ untuk di hidangkan padaku. Begitu hidangan tersebut diletakkan di depanku, Mata Maribeth melotot melihat hidangan itu, “Bi, gimana sih, itukan singkong rebusnya Papa, kok di bawa kemari !.” Sahut Maribeth dengan wajah malu kepada bibi pembantunya.

“A…anu, Non … tadi kan non Maribeth bilang minta dipisahkan buat non Maribeth juga, jadi bibi bawain saja singkong rebus nya sekalian kesini.” Sahut Bibi nya mantap.

He…he…he …, ternyata gadis kesukaanku, suka juga dengan singkong rebus, ternyata selera nya gak jauh beda, semula ku pikir seleraku dan Maribeth akan jauh berbeda bagaikan ‘singkong dan keju’. Itu lah selalu yang membuatku minder, karena Maribeth anak orang kaya dan aku : ‘anak singkong’, he…he…he…, maksudnya orang tua ku tidak lah sekaya orang tua nya Maribeth.

“Ouugh God !, Bibi ini bikin malu saja !, sudah bawa semua hidangan ini kedalam !, ganti dengan ‘orange juice’ dan ‘apple pie’ yang tadi mama bikin.” Jelas Maribeth kepada bibi pembantunya.

Bibi pembantu cuma melongo mendengar penjelasan Maribeth, sambil berlalu pergi ke dapur ia menggerutu, “Duh nama nya saja sudah bikin bingung, apa lagi makannya nanti!.”.

Setelah bibi pembantu pergi, aku pikir sekarang lah saat yang tepat untuk bilang ‘I love You’ pada gadis kesukaanku. Dengan Percaya Diri yang ‘di tinggi-tinggi’kan, aku pun membenarkan letak dudukku di kursi nya yang empuk. Badan ku ditegapkan, lalu kemudian ku serahkan setangkai mawar putih itu pada Maribeth.

“Oh, my God, it’s so sweet ….” Mata Maribeth melotot senang memandangi setangkai mawar putih yang ada di tangannya.
“Maribeth, bunga ini ku persembahkan sebagai ….” Belum sempat ucapanku selesai, tiba-tiba saja ‘bokap’ nya yang kaku dan ‘nyokap bule’ nya yang jutek datang menghampiri kami.

Bokap dan nyokap nya duduk di samping Maribeth.

Ya, ampun … kiamat sudah dekat !, gusarku dalam hati.

Bokap nya pun akhirnya mendominasi pembicaraan kami, sedangkan nyokap nya sedikit bicara tapi lebih banyak mencibir mendengar pembicaraan kami bertiga, aku, Maribeth dan bokap nya. Apalagi kalau sedang membandingkan antara prestasi sekolahku dengan Maribeth, huh !, serasa masa per’plonco’an hadir kembali.

Keringat sebesar jagung, mulai nongol di keningku. Rasa Percaya Diri ku pun seketika runtuh. Istana Percaya Diri ku yang kubuat dari pasir, habis di terjang ombak lautan yang ganas. ‘Saved by the bell’, Maribeth pun akhirnya memahami kegelisahanku.

“Papa Mama, sudah siang ini, bukannya Papa dan Mama mau shopping?.” Kata Maribeth setengah mengusir Papa dan Mama nya.
“Bagaimana, Ma … jadi ke PI* mall ?.” Tanya Papa kepada Mama.
“hmm, it’s OK … kita berdua saja?, Maribeth?.” Sahut Mama kepada Papa dan Maribeth.
“Ma, Maribeth gak ikut, Maribeth kan sedang ada teman.” Jelas Maribeth sambil memohon.
“Sudahlah, Ma … kita pergi berdua saja, nanti kalau Maribeth mau, dia juga bisa nyusul kita.” Jelas Papa kepada Mama.

Bokap dan nyokap nya Maribeth pun akhirnya bangkit dari duduk nya. Sebelum mereka berlalu, “mmm … I think (berfikir sebentar), Maribeth, Papa dan Mama gak mau kamu pacar-pacaran, karena kamu masih sekolah, Maribeth !.” Kata nyokap nya kepada Maribeth.

“Yes, Mama … Maribeth juga masih ingat itu, Maribeth gak bakalan lupa pesan Mama, OK ?: Jelas Maribeth berusaha meyakinkan Mama nya.

Tiba-tiba saja, “And You !.” Telunjuk nyokap nya yang runcing hampir saja menusuk mata ku. “You, bukan pacar nya Maribeth kan?, You cuma teman sekolah nya Maribeth kan?.”
“I … iii, iya, tante … saya cuma teman sekolahnya saja kok !, he…he…he .. .” Aku berusaha ‘nyengir’ untuk mengusir ke gugupanku di todong oleh nyokapnya Maribeth seperti itu.
“Huh !.” Dengan Jutek nyokap nya meninggalkan kami berdua, kemudian di ikuti oleh bokap nya yang kaku.

Hatiku yang sedari tadi di panggang api neraka serasa di siram air es, nyess !. Perlahan namun pasti aku mulai membenahi istana Percaya Diriku kembali.

Suasana sepi tinggal aku dan Maribeth saja. Hatiku gembira menyanyikan lagu sorak-sorak bergembira, bergembiralah semua, sudah bebas negeri kita … Indonesia merdeka. Hatiku terasa seperti baru terbebas dari penjajahan. Nah, ini lah saat yang, it’s now or never, sekarang waktu nya ngomong atau tidak sama sekali.

“Maribeth, …menyambung pembicaraan aku tadi ….” Jelasku terbata-bata.
“Ya …. Memangnya kamu mau ngomong apa?.” Tanya Maribeth padaku.
“Bunga mawar pemberianku tadi … sebenarnya adalah sebagai ungkapan kalau aku ciiiiinnn ….”

Timer The Time Tunnel berbunyi sebagai tanda kalau masa aku di bulan juli tahun 1987 telah habis. Secepat kilat, mesinnya menyedotku kembali, berputar-putar cepat kemudian melemparkan ku ke bulan januari tahun 2010 di sebuah restauran.

“Pa … Pa … Pa ….” Istriku berusaha menyadarkanku. “Pa, Papa, kenapa sih?.”
“Hah !.” Aku kaget. Tadi aku benar-benar tak sadarkan diri.
“Papa, kenapa?, Papa sakit …?.” Tanya Istriku sambil menempelkan tangannya ke keningku.
“Oh, O … O, gak, gak kok Ma ..Papa gak sakit kok, Ma.” Sahutku gugup.
“Kalau gak sakit, kenapa gurame goreng dan karedok nya gak dimakan-makan, Pa?.” Tanya Istriku yang bawel lagi.
“I, I, I, … iya, ini mau dimakan, Ma …!.” Aku berusaha melahapnya dengan cepat.

Akhirnya istriku pun kembali sibuk menikmati sayur asem dan sambel cobek nya. Aku pun ikut menikmati hidangan yang ada di mejaku. Gurame goreng di cocol sambel cobek dan karedoknya yang pedas mempercepat pulihnya kesadaranku.

Di sudut taman, nampak kedua anakku dan kedua anak nya Maribeth sedang asyik bermain ayun-ayunan dan permainan anak-anak lainnya. Di dekatnya nampak pula Maribeth dan suaminya, mengawasi mereka sambil tertawa gembira.

Dari jauh Pandangan Maribeth sesekali tertangkap mata ku, dia tersenyum, aku pun membalas senyumnya. Suami Maribeth pun ikut tersenyum dan tidak mau ketinggalan, istriku dengan mulut masih dipenuhi makanan, ikut tersenyum pula.

Suasana yang meriah, ternyata bukan hanya ada keluarga ku dan keluarga Maribeth saja yang hadir di restauran taman ini. Keluarga teman-teman SMA ku pun banyak pula yang hadir karena kami sedang mengadakan acara Reuni bersama teman-teman semasa SMA dulu.

Seandainya, The Time Tunnel bisa mengantarku kembali ke masa itu … dan aku bisa mengungkapkan seluruh perasaan cintaku yang dulu pada Maribeth …

Hush!, aku berusaha menepis itu semua. Maribeth nampak bahagia bersama keluarga nya. Aku pun bersyukur kalau aku juga tak kalah bahagianya, bersama istri dan kedua anak-anakku.




Jakarta, Januari 2010

wans_sabang

surat-surat diam ku yang membatu


(surat-surat diam ku yang membatu)
Istriku,
mari lah kita duduk di antara bulan
dan kesyahduan bintang-bintang



tenggelam di kelam malam,
tanpa serta sepatah kata
hanya duduk dan saling diam



menemani perginya malam ...
(inilah duduk dan saling diam yang begitu indah karena kita t'lah sama-sama mengerti bahwa semua persoalan hidup akan dijernihkan dan digenapkan oleh sang waktu)


Kasih,
bagai berdzikir ku baca surat-surat diam mu
surat-surat yang kau tulis dengan air mata

Istriku,
ketika waktu t'lah terbaring hening
kisah kasih kita nanti tinggallah sketsa
memudar meredup begitu saja


bersama bintang yang tenggelam dan langit pun kosong ...

Kasih,
di atas tanah merah ini ku kubur surat-surat diam mu
surat-surat diam mu yang membatu

dan yang tersisa kini tinggallah pusara
bernisankan cinta

Istriku

walau t’lah tiada
kenang-kenang kan lah aku …

kasih,
kau kan s’lalu ada
di setiap pori-pori jiwaku




”surat-surat diamku yang membatu” terinspirasi oleh seorang suami yang membuat sekumpulan surat-surat cinta untuk istri nya.

Surat-surat yang tidak pernah ia kirimkan pada istrinya karena sesuatu hal.
Dan sang suami berharap suatu hari kelak ketika ia telah tiada, sang istri akan membaca kumpulan surat-surat cinta nya agar sang istri tahu kalau ia benar-benar mencintainya.






wans_sabang

LAKON

LAKON
bisa di artikan sebagai gerak laku sesorang yang memerankan sebuah adegan, bagian dari sebuah kisah sebuah episode.

Kalau dunia ini adalah sebuah film dan setiap orang masing-masing akan mendapatkan sebuah peran yang harus dilakoni sesuai dengan skenario yang diberikan kepadanya. Apakah kita boleh memilih peran apa yang sesuai dengan kemauan kita sendiri?.
Kalau boleh memilih, lantas siapa yang mau memerankan lakon susah, sedih dan menderita?. Jawabannya adalah pasti tidak ada orang yang mau, semua orang mau nya mendapat peran untuk melakoni lakon senang, bahagia dan gembira.
Seperti apa film jadi nya?, kalau cerita nya hanya mengisahkan lakon senang, bahagia dan gembira saja. Film tersebut akan sewarna dan seragam. Tidak adanya perbedaan dan tentu nya tidak akan ada konflik, tentu saja film tersebut nantinya akan menjemukan dan membosankan, kisahnya hambar dan tidak bisa di nikmati.

Sebuah film sejatinya menceritakan sebuah kisah yang tidak sewarna dan seragam karena kisahnya nanti  akan monoton, adanya perbedaan yang dapt menimbulkan konflik, kisahnya akan semakin variatif dan hidup seperti memiliki ruh, kisahnya dapat membuat kita tertawa terbahak-bahak atau menangis tersedu-sedu.

Cerita demi cerita di dalam film tersebut akan bisa memabukkan bahkan sampai enghanyutkan, menimbulkan rasa penasaran dan penonton akan sukar untuk menebak akhir dari cerita itu.




Setelah aku di beri segelas minuman oleh pemuda simpatik di sebuah acara pesta ulang tahun temanku.

Palu godam serasa meninju kesadaranku, perlahan detak jantungku melemah, tulang-tulangku tiba-tiba saja  bagai hantam dingin yang hebat, seketika itu juga tubuh ku ambruk tanpa daya.

Tidak ada lagi yang bisa ku ingat, aku coba merangkai sebuah puzzle berantakan yang ada di dalam rak memoriku, ku coba susun walau terasa pedih, hingga menjadi sebuah gambar yang utuh.

Sial!, ternyata ini bukan mimpi!.
Apa yang telah di lakukan pemuda simpatik itu terhadap ku?, aku berusaha menepis angan buruk yang hendak melintas cepat menyergap kewarasanku.
Tidak mungkin!, Tidak mungkin!,
Oh, Tuhan apa yang telah terjadi?.

Secepat kilat aku menyambar selimut untuk menutupi tubuh telanjangku.

Pikiranku masih saja membela kewarasanku yang terusik. Tidak mungkin!, Tidak mungkin ini terjadi!, begitu kuatnya kata-kata itu ku teriakkan di dalam benakku.

Baju pesta, Beha dan celana dalamku yang berserakan begitu saja di lantai akhirnya membunuh kewarasanku. Oh, Tuhan !. Apa guna nya teriak dan tangis histerisku?.
Pemuda simpatik itu telah memperkosa ku.
Tuhan kenapa aku tidak mati saja!.

Jarum detik tak bergerak lagi. Ruang pun kini tak berdimensi lagi.
Waktu ku tersedot ke angka nol, detik nol, menit nol dan jam nol.
Ruang jiwaku kini adalah ke kosongan tak bertepi.

Gunting yang ku ambil dari laci lemari rias telah menggantikan peran Tuhan yang sudah tak ku percaya lagi.

Darah mengalir, aku berhasil memotong urat nadiku. Semakin banyak darah yang keluar, tubuh ku pun semakin lunglai. Aku tersenyum menikmati sakit demi sakit. Ternyata setan yang sedari tadi hanya membisik-bisikkan saja padaku, kini dengan berani ia berdiri di hadapanku. Ia tertawa terbahak-bahak mengejekku, sambil dengan isyarat jari tengah ku acungkan di depan mukanya, walau lirih aku katakan padanya, "Fuck You!."

Dan aku kini telah menjadi sesuatu yang baru ... ya cuma sesuatu bukan seseorang..


Suatu Malam di  Cafe Down Town

Masih ku ingat ketika tubuh atletisku menindih menempel ketat di tubuh nya, tangan kekar ku memaksa angkat baju pesta dan BH nya kemudian ku lemparkan sembarangan. Celana dalamnya pun ku peloroti kemudian ku buang. Sesaat mataku menikmati tubuh telanjangnya.
Tanpa perlawanan  karena sebelumnya aku telah menaruh obat tidur dengan dosis tinggi ke dalam gelas minuman yang ku berikan pada nya.
Dengan bernapsu aku memperkosanya. Oh, my God, masih perawan!. Dengan susah payah akhirnya kenikmatan itu dapat ku tuntaskan. Gadis itu pun ku tinggalkan begitu saja bagai seonggok sampah.

Mungkin begitu lah maksud sebuah film di buat dan setiap orang masing-masing akan mendapatkan peran yang berbeda-beda dari sang Sutradara. Suka atau tidak, kita tidak bisa memilih dan kita hanya harus memerankannya dengan sebaik-baiknya.

Musik blues malam ini begitu biru, ku hisap rokok putihku untuk mengusir resah. Ku lihat tinggal setegukkan lagi whiskey cola ku. Aku tersenyum memandangi gelas itu. Ini sudah gelas yang ke tujuh, butuh berapa gelas lagi agar aku bisa mabuk dan melupakan semua yang pernah terjadi?. Akhirnya ku reguk juga, sisa whiskey cola itu ...
Sebelum habis ku reguk whiskey cola itu tiba-tiba  saja dari arah belakang terdengar ledakkan sebuah pistol. Bunyinya begitu memekakkan telinga. Ternyata pistol itu memang benar mengarah ke kepalaku.dan dengan tepat  dan cepat menghamburkan otak yang ada di kepalaku.

Akhirnya hanya dengan sebuah peluru aku benar-benar bisa melupakan semuanya, semua yang  pernah terjadi pada gadis itu.

Esok pagi nya di halaman sebuah koran termuat berita : SEORANG JENDERAL MENEMBAK  PEMERKOSA ANAK GADIS NYA HINGGA TEWAS.



diambil dari kisah : Ros, Jakarta, medio 2005
wans_sabang







Sebuah Episode










Sebuah Episode



Sekali waktu mungkin kita perlu keluar dari dalam diri kita, dari kehidupan kita dan kemudian memandang kehidupan diri kita sendiri atau kehidupan anak manusia lainnya seperti kita sedang di dalam ruang teater memandangi sebuah episode yang sedang di putar.
Di dalam ruang teater, ketika lampu ruangan di gelapkan, sebagai tanda kalau sebuah episode akan di putar.


FADE IN* :
sebuah transisi dari layar gelap kemudian muncul gambar demi gambar
waktu demi waktu

mengalir
memainkan sebuah lakon
sebuah kisah
sebuah cerita
sebuah episode

anak manusia
yang ditulis oleh si PENULIS CERITA

terhenyak
ada lakon yang tak meng-enakkan

lakon perih,
resah gelisah,
menimbulkan sedih dan ketakutan
tanpa terasa air mata yang meng-amini kalau lakon itu tidak lah meng-enakkan

lakon demi lakon
terus mengalir
ada setitik cahaya
secercah harapan
lakon tak meng-enakkan itu mesti lah berakhir
karena itu lah kehidupan
yang tak pernah diam
terus bergerak
terus mencari celah

mencipta sebuah titik
hingga sketsa
karena mimpi adalah tempat penyemaian kenyataan
karena mimpi adalah cita-cita yang belum di segera kan

dari cita-cita

jadi suka cita
lakon demi lakon

terus mengalir
perih, gelisah, sedih dan ketakutan yang memberikan manfaat yang setimpal yaitu : hikmah
membuat kita tersenyum walau pahit
terus berhikmah sambil tersenyum
dan yakin akan terasa manis
hingga lakon itu bisa membuat kita terbahak bahak menertawai hidup itu sendiri ...
dari sebuah catatan si PENULIS CERITA
menjadi sebuah scene"
scene demi scene yang dibungkus waktu
menjadi sebuah episode seorang anak manusia ...
FADE OUT * :
sebuah transisi dari layar yang menampakkan gambar demi gambar mulai mredup hingga yang ada hanyalah layar gelap ...
Ruang gelap pun mulia terang, penonton mulai beranjak pulang, satu demi satu orang pu keluar hingga ruang teater itu pun sepi kembali.
menunggu sang waktu
memutar kembali sebuah episode ...


bogor, 22 mei 2010

wans_sabang


Menawarkan Tempat Wisata Yang Berbeda

Menawarkan Tempat Wisata Yang Berbeda






Ber wisata lah ke RUMAH SAKIT, agar kita bisa merasakan nikmat nya : SEHAT.
Buat orang yang sakit, SEHAT adalah harta yang tak ternilai harga nya, berapa pun uang yang harus dibayarkan ke rumah sakit agar seseorang bisa sembuh dari sakitnya dan sehat seperti sedia kala.







Berwisata lah ke PENJARA agar kita bisa merasakan bagaimana nikmatnya : KEBEBASAN atau KEMERDEKAAN.
Pernahkah kita berfikir apa yang telah dilakukan oleh orang tersebut hingga ia dipenjara?. Dan Bagaimana rasa nya ia hidup di dalam penjara?.
Bayangan-bayangan seperti itu hendak nya menjadi kan kita untuk menjadi  orang yang selalu berhati-hati dalam bertindak, apakah tindakan kita telah melanggar hukum manusia? atau mungkin telah melanggar hukum Tuhan?.
Begitu berarti nya sebuah kebebasan atau kemerdekaan bagi orang yang terpenjara, berapa pun akan ia bayar untuk bisa membeli kemerdekaan nya, institusi kepolisian dan pengadilan bisa ia suap  dan ia sulap karena uang.yang ia miliki.
Tapi bagaimana dengan hukuman Tuhan (penjara Tuhan, dibaca)?,
Adzab Tuhan nanti amat pedih dan tidak bisa ia suap atau sulap dengan  berapa pun jumlah uang yang dimiliki nya.
Itu pun jika ia yakin dan percaya akan ada nya hari PEMBALASAN nanti.






Ber wisata lah ke RUMAH SAKIT JIWA, agar kita bisa merasakan nikmat nya AKAL.
Akal yang sehat yang kita gunakan untuk berfikir, memilih mana yang baik dan buruk?, dan akal yang kita gunakan untuk memilih mana yang benar dan salah?, mana yang tidak melanggar atau melanggar hukum?.
Ketika nikmat akal sehat yang telah Tuhan berikan telah kita abaikan dan sia-sia kan, stress bahkan mungkin bisa membuat kita gila dan di rawat di rumah sakit jiwa.








Ber wisata lah ke PANTI-PANTI JOMPO, agar kita bisa merasakan nikmatnya MASA MUDA.
Untuk apa saja umur yang telah Tuhan berikan  kepada kita?.
Ketika semua telah tua renta, tidak ada daya dan tenaga lagi, ketika pikun dan rabun mulai merayapi diri kita, akan kah rasa sesal kita akan bermanfaat?.






Berwisatalah ke lokasi BENCANA ALAM, agar kita tahu apa arti KEBERUNTUNGAN yang Tuhan berikan kepada kita.
Siapakah orang yang tahu, kalau ia akan tertimpa bencana?. Apalagi bencana alam yang menimpa banyak orang, terkadang bencana itu datang dengan tak di sangka-sangka atau diperkirakan sebelumnya.
Kenapa mereka atau orang lain yang tertimpa bencana? dan kenapa bukan kita ?, pernah kah kita merenungi sampai sejauh itu ?.
Jawab nya ternyata kita lebih beruntung di bandingkan dengan mereka atau orang-orang yang di timpa bencana dan agar hati kita turut merasakan juga kepedihan, kemalangan dan kesedihan mereka.

Jika anda belum pernah mengunjungi tempat-tempat seperti ini secara langsung maka sebenarnya anda senantiasa berada dalam keadaan nikmat tapi anda telah LUPA dan tidak mau  menyadarinya.
KESEHATAN, KEMERDEKAAN, MASA MUDA dan KEBERUNTUNGAN yang Tuhan telah berikan, apakah akan kita sia-sia kan begitu saja?.
Nikmat Kesehatan, Kemerdekaan, Masa Muda dan Keberuntungan memberikan kita banyak kesempatan agar kita menjadi orang yang bermanfaat bukan hanya untuk diri kita sendiri tetapi juga bermanfaat untuk orang banyak.


Life is a Miracle ... day by day
(catatan ke : 2)



Bogor, 24 Juli 2010

wans_sabang

Life is a Miracle


 
(catatan ke : 1)
Ke ajaiban, ke ajaiban, ke ajaiban.
Begitu selalu yang ku mohon kepada Tuhan, dengan tak bosan-bosan nya, hingga ku berharap a Miracle (sebuah ke ajaiban) yang dapat men sugesti pikiranku.
Juga berharap agar Tuhan dapat melepaskan belenggu yang ada di dalam pikiranku menjadi sebuah pikiran yang polos, putih, bersih dan tanpa persepsi.
Kun fa ya kuun ...
Bukankah Tuhan telah memberikan ke ajaib an itu sejak kita lahir?, Ke ajaiaban yang telah ada di dalam diri kita sendiri, yaitu : Pikiran Kita Sendiri.
Bukan kah Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang (suatu kaum), jika orang (kaum) tersebut tidak punya kemauan untuk merubahnya. Atau sebaliknya, Tuhan pasti akan mengubah nasib seseorang (suatu kaum) jika orang (kaum) tersebut punya kemauan untuk merubah nasib nya.
Kesepakatan pikiran dan hati melahirkan tekad atau kemauan yang kuat dan murni, apalagi dengan dilandasi Iman sehingga melahirkan tekad atau kemauan yang bertujuan.
Kebebasan berfikir untuk menentukan nasib kita sendiri adalah sumber kekayaan yang telah diberikan Tuhan kepada setiap orang. Kebebasan untuk menentukan dan memilih : ingin sukses atau gagal?, tergantung diri kita sendiri.
Karena ke suksesan adalah hak setiap orang.
Gunung Jaha Lestari , Bogor, 22 Juli 2010