Aku perempuan yang telapak tangannya
menangguk air mata dan bulir keringat
demi menyiram benih pada nyawanyawa sejiwa
rontokkan kalimat azimat kitab suci teragung
Yang dipujapuji dan dikeramatkan
Langit tak mampu memindah bola matanya
Ia tahu dengusku meletih perih
Saat suara lelaki berteriak pongah “Hei, nak. Laki laki tak boleh pegang sapu!”
(ia lihat seorang balita lelaki memegang sapu di sebuah teras)
Darah mancur dari ubunubunku
“Siapa katakan itu? Jika perempuan bisa kumpulkan rupiah
Mengapa lelaki tak boleh pegang sapu?”
Langit menangis tersedan bukan di musimnya
Petir menyambar lalu apinya didihkan salju
Sementara lelaki itu terbahak mengipas pongah
sambil main burung satusatunya yang ia miliki dan banggakan
Ia tak sadar bahwa ia makan dari keringat perempuan
yang buah dadanya terbitkan syahwat lelaki?
Teladan Nabi Muhammad mana yang kau ambil jadikan pegangan?
Bila ada kata yang mesti kupetik sepagi ini,
bolehkah itu mengenai kamu dan aku ?
Yang menyerah pada rindu yang bertumpuk-tumpuk dan kata-kata ingin bertemu hingga berkarung-karung.
Bayangkan bagaimana aku harus membereskannya siang nanti,
menatanya satu-satu,
menyusunnya sedang-sedang agar tak terlalu tinggi tumpukannya,
mengeluarkan rasa ingin jumpa yang banyak itu agar pindah ke rak pertemuan akhir minggu ini.
Bayangkan, tak menunggu siangpun aku segera berpeluh membereskannya,
menjemput lelah yang tak pernah benar-benar lelah,
bagaimana bisa kau hidangkan stelan busana mahal dengan sulaman darah dari anak-anak yang nyawanya kau tikam berkali-kali,
yang seratnya adalah air mata segala masa yang kau rajam dengan alas kata-kata politis yang terdengar miris,
yang lapis dalamnya adalah benakmu yang tak tersentuh cinta Ilahi lagi,
melainkan rasa gagah yang memahkotaimu dengan judul baru : tuhan bagi nyawa dan luka...
Jakarta, 6 Januari 2009
didedikasikan bagi korban perang jalur Gaza
(dipublikasikan pada acara RRI & Dompet Dhuafa utk Palestina, 7 Januari 2009 & TVRI, 11 Januari 2009)
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap.
Bagaimana mungkin kita bernegara
Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya
Bagaimana mungkin kita berbangsa
Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup bersama ?
Itulah sebabnya Kami tidak ikhlas
menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu
sehingga menjadi lautan api
Kini batinku kembali mengenang
udara panas yang bergetar dan menggelombang,
bau asap, bau keringat
suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki
langit berwarna kesumba
Kami berlaga
memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.
Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata
yang bisa dialami dengan nyata
Mana mungkin itu bisa terjadi
di dalam penindasan dan penjajahan
Manusia mana
Akan membiarkan keturunannya hidup
tanpa jaminan kepastian ?
Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah
Hidup yang diperkembangkan
dan hidup yang dipertahankan
Itulah sebabnya kami melawan penindasan
Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan
bangsa tetap terjaga
Kini aku sudah tua
Aku terjaga dari tidurku
di tengah malam di pegunungan
Bau apakah yang tercium olehku ?
Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu
yang dibawa oleh mimpi kepadaku ?
Ataukah ini bau limbah pencemaran ?
Gemuruh apakah yang aku dengar ini ?
Apakah ini deru perjuangan masa silam
di tanah periangan ?
Ataukah gaduh hidup yang rusuh
karena dikhianati dewa keadilan.
Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku
dibangunkan oleh mimpi ?
Apakah aku tersentak
Oleh satu isyarat kehidupan ?
Di dalam kesunyian malam
Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku !
Apakah yang terjadi ?
Darah teman-temanku
Telah tumpah di Sukakarsa
Di Dayeuh Kolot
Di Kiara Condong
Di setiap jejak medan laga. Kini
Kami tersentak,
Terbangun bersama.
Putera-puteriku, apakah yang terjadi?
Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami ?
Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu,
Apakah kita masih sama-sama setia
Membela keadilan hidup bersama
Manusia dari setiap angkatan bangsa
Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga
Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi
Dan menghadapi pertanyaan jaman :
Apakah yang terjadi ?
Apakah yang telah kamu lakukan ?
Apakah yang sedang kamu lakukan ?
Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna
Dari jawaban yang kita berikan.
Angin gunung turun merembes ke hutan,
lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas,
dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau.
Kemudian hatinya pilu
melihat jejak-jejak sedih para petani - buruh
yang terpacak di atas tanah gembur
namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya.
Para tani - buruh bekerja,
berumah di gubug-gubug tanpa jendela,
menanam bibit di tanah yang subur,
memanen hasil yang berlimpah dan makmur
namun hidup mereka sendiri sengsara.
Mereka memanen untuk tuan tanah
yang mempunyai istana indah.
Keringat mereka menjadi emas
yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa.
Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan,
para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,
dan menjawab dengan mengirim kondom.
Penderitaan mengalir
dari parit-parit wajah rakyatku.
Dari pagi sampai sore,
rakyat negeriku bergerak dengan lunglai,
menggapai-gapai,
menoleh ke kiri, menoleh ke kanan,
di dalam usaha tak menentu.
Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,
dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai,
dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.
Beribu-ribu burung kondor,
berjuta-juta burung kondor,
bergerak menuju ke gunung tinggi,
dan disana mendapat hiburan dari sepi.
Karena hanya sepi
mampu menghisap dendam dan sakit hati.
Burung-burung kondor menjerit.
Di dalam marah menjerit,
bergema di tempat-tempat yang sepi.
Burung-burung kondor menjerit
di batu-batu gunung menjerit
bergema di tempat-tempat yang sepi
Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu,
mematuki batu-batu, mematuki udara,
dan di kota orang-orang bersiap menembaknya.
Cinta ... seperti yang lain nya : makan, minum, bernapas, berjalan atau mungkin kentut adalah suatu hal yang biasa-biasa saja, tidak istimewa dan terkadang membosankan.
Mungkin definisiku tentang cinta berbeda dengan definisi kebanyakan orang. Jujur saja memang hanya itu yang ada dalam isi kepalaku.
Melihat orang lain jatuh cinta, buat gue sama saja ketika gue menonton film horor, harus nya seram dan menakutkan tapi buat gue semua nya itu norak dan basi. Di dunia ini mana ada sih setan?!, apa lagi yang namanya kuntilanak, pocong atau genderuwo.
Seumur hidup, gue belum pernah ketemu apalagi sampai ngobrol. Buat gue yang nama nya setan adalah manusia yang pekerjaan nya merugikan orang lain, seperti jambret, tukang todong, maling dan copet. Kalau manusia tersebut pekerjaan nya merugikan orang banyak atau merugikan rakyat, seperti para koruptor, itu nama nya raja setan.
Cinta, cinta, cinta ... beberapa teman gue ngomong tentang cinta sama gue.
“Don, sampai saat ini, benar lho belum menemukan cinta sejati lho?. (sambil teman gue mengerutkan keningnya berfikir) A...tau, gue yakin deh sebenarnya cinta itu pernah datang ke dalam relung hati lho tapi lho nya yang gak ‘ngeh!, karena lho gak ngerti apa itu cinta dan untuk apa itu cinta?, benar gak, Don!.” Kata temanku meyakin kan.
Masa sih?, ah gue gak yakin!. Jawab gue dalam hati cuma pada waktu teman gue menjelaskan nya dengan serius, gue manggut-manggut demi menghormati dia saja selebihnya gue gak ngerti apa yang dijelaskan.
“Jatuh cinta itu dahsyat, man... ada suatu getaran energi listrik yang bisa lho rasakan.” Jelas teman gue, seorang mahasiswa jurusan teknik elektro.
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garsi batas pernyataan dan impian
Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi
merayu
dalam gemuruh
mebunuh
dalamnya lugu
dalam gelap
menyulap khilaf
dalam lelah
di dera gelisah
kilau lampu
setubuh dua tubuh
tipu menipu
kilau lampu
setubuh dua tubuh
begitu saja berlalu
si pria berkata : aku tidak melacur
hanya menghibur diri
si wanita berkata : aku pun bukan pelacur
hanya menjual diri
air mengawini bumi adalah rasa
dan bumi menikmati dan larut adalah cinta
saling berkumpul dan bergumul,
menyatu tapi tidak mengubah adalah kasih
air mengawini bumi dengan sadar dan suka rela adalah adil
dan bumi menerima dengan suka cita adalah kekayaan
air dan bumi saling menerima dan rela adalah kemakmuran
air mengawini bumi
dan bumi menikmati
tidak saling menenggelamkan adalah harmonis
(air mengawini bumi, 11 januari 1994)
malam malam basi
sepi sendiri
malam malam beku
sepi membatu
di ujung beku
bisu kukuh
diam di hati yang tak berpintu